Pukul satu pagi, dengungan suara
mesin tua memecah kesunyian malam. Suaranya seperti dengkuran ayahku saat tidur
setelah lelah seharian membanting tulang. Mesin itu kurasa juga demikian, sudah
lelah bertahun-tahun berpacu menggerakan angkot
yang juga sama tuanya.
“Sudah sampai dek.” Terdengar suara dari balik kemudi.
Suaranya khas dengan logat sunda yang kental. Aku bersama ketiga orang temanku
bergegas turun dari angkot. Belum
juga seluruh badanku keluar, tanganku sudah disambut hembusan angin malam yang
dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Kami memberanikan diri keluar
dari angkot yang membawa kami dari
jalan besar tempat kami turun dari bus jurusan Kampung Rambutan – Cianjur
menuju base camp.
Keluar dari angkot, sudah terlihat dari kejahuan jalan yang akan kami lalui.
Jalan yang begitu terjal masih tampak terlihat walaupun sudah tertutup tebalnya
kabut malam. Dalam lamunanku, sesaat nyaliku menciut melihat jalan yang akan
kami lalui begitu menyeramkan. Pasti di sana banyak mahluk buas yang siap
mencabik-cabik kami kemudian memakan daging kami seperti roti sobek yang kubawa
di ranselku. Belum lagi mahluk-mahluk kecil seukuran jari kelingking orang
dewasa yang tidak kalah mengerikan, yang akan menghisap darah kami seperti dracula.
Tiba-tiba lamunanku terhenti karena ada seseorang
menepuk pundakku. “Oi wan jangan bengong aja, nanti kesambet loh”. Ternyata dia
adalah Fahmy, salah satu teman yang ku kenal karena sering melakukan pendakian
bersama.
“Makasih Kang.”. Terdengar suara Fais berkata, sambil menyodorkan uang
seratus ribu ke sopir angkot dan angkot itu pun langsung melesat cepat ke
arah jalan besar tadi. Sementara Rifdah yang dari tadi menggigil kedinginan,
langsung menurunkan ransel kecilnya ke tanah dan mengeluarkan jaket tebal
miliknya.
“Sekarang kita istirahat disini
dulu saja sampai pagi. Jam enam kita baru berangkat”. Ujar Fais yang merupakan
ketua regu. Kami langsung bergegas masuk ke sebuah rumah yang cukup besar, yang
memang diperuntukan sebagai tempat beristirahat bagi para pendaki.
Di dalam sudah banyak para
pendaki yang tertidur lelap sambil mendengkur. Dengkurannya lumayan keras
sambil bersahut-sahutan seperti paduan suara pada acara orkestra. Tampak juga
ada beberapa pendaki yang belum tidur. Mereka sedang mengobrol santai dengan
rekan seregunya sambil ditemani segelas kopi hitam pucat yang mengeluarkan uap
pekat.
Udara di dalam memang tidak jauh
lebih baik dibandingkan diluar. Memang cocok untuk menghangatkan tubuh dengan
segelas kopi. Namun kami sudah sangat lelah sehingga kami langsung tertidur
pulas tanpa memikirkan hawa dingin yang menjalari tubuh kami.
Pukul lima tepat, alarm berbunyi
dari ponselku. Aku pun terbangun. Sesaat mataku terasa berat seperti ada lem
yang menempel di kelopak mataku. Setelah beberapa saat kemudian teman-temanku
ikut terbangun. Kami membereskan peralatan tidur kami dan kemudian siap
berangkat. Sebelum berangkat, kami memasak air panas dan membuat kopi susu,
yang dari semalam sudah kami inginkan namun tidak terwujud karena terlalu
lelah.
Diluar langit begitu cerah.
Tampak matahari seolah-olah mengintip dari balik bumi dan perlahan muncul
sepenuhnya. Saat itu langit seolah-olah memiliki tiga lapisan. Biru tua yang
merupakan langit malam menyatu dengan putih dan jingga yang merupakan langit
pagi yang siap menyapa para mahluk hidup yang menghuni bumi. Benar-benar sebuah
gradasi warna yang indah. Peristiwa langka yang jarang, bahkan sulit didapat
jika berada di kota besar seperti Jakarta.
Satu langkah kami keluar dari base camp sudah disambut kicauan burung
pagi yang begitu antusias. Rasa kantuk yang sedari tadi malam masih menyergap,
seolah-olah lenyap begitu saja melihat semua pemandangan menakjubkan itu. Di
depan mata, sudah terlihat jalan curam dan terjal tadi malam. Semakin jelas
karena cahaya matahari mulai menyinarinya. Namun lebih indah karena di
sekelilingnya di hiasi hamparan pemandangan hijau yang menyejukkan mata.
Kami berjalan beriringan
membentuk barisan. Fais di depan, Rifdah dan aku di tengah, dibelakang ada
Fahmy. Dimaksudkan agar ketika Rifdah kelelahan bisa di bantu oleh Fahmy dan
aku. Fais di depan karena memang dialah yang paling tau tentang jalur yang akan
kita lewati nanti.
Sepuluh menit berjalan, kami
sampai di perkebunan warga. Tampak sayur-sayuran segar yang basah oleh embun
sedang di petik oleh para petani. Wajah mereka benar-benar ceria dengan senyuman
lebar yang nampak dari balik topi jerami. “Permisi bu.” Kami melewati mereka
sambil tersenyum.”Iya dik, yang semangat ya.” Mereka membalas senyuman kami.
Sudah cukup lama kami berjalan,
sampailah kami pada pintu masuk hutan. Kami bersitirahat sejenak mengumpulkan
energi sambil minum air. Sinar matahari menyinari kami, menyelinap masuk dari
celah-celah dahan pohon. Menghangatkan tubuh kami yang lelah. Suasana sejuk
khas dataran tinggi, berbalut hangatnya sinar matahari pagi membuat kami
mengantuk. Tapi kami tidak boleh terlena dengan semua itu. Perjalanan kami masih
sangat jauh.
Semakin jauh kaki melangkah,
semakin sulit medan yang kami lalui. Tanah bekas hujan yang begitu licin,
bebatuan besar dan akar pohon berlumut menemani kami sepajangan perjalanan.
Kami tidak boleh berhenti, tetapi kami juga harus berhati-hati dalam melangkah.
Salah memilih langkah, kaki akan terpeleset jatuh dan terluka. Belum lagi di
bagian kanan ada jurang yang cukup dalam. Sangat berbahaya apabila sampai
terpeleset.
Dua jam sudah kami berjalan.
Sampailah kami di sebuah pos berukuran 3x3 meter. Pos ini sengaja dibuat
sebagai tempat beristirahat bagi para pendaki. Didalam pos, tampak dua orang
pemuda yang sepertinya sedang kebingungan. “Ada apa ya bang?, kok kelihatannya bingung gitu.” Fais memulai bertanya. “Ini bang, dari tadi kompor gue enggak bisa nyala, padahal gasnya
masih penuh” jawab salah seorang
pemuda.
Fais memeriksa kompor tersebut,
dan melihat bagian pengunci gas dari kompor tersebut. Ternyata penguncinya
tidak pas. Fais mengambil sebuah kayu dan kemudian mengganjal bagian bawah gas.
Kompor pun menyala. Ekspresi kedua pemuda itupun berubah ceria. “Wah makasih bang, beruntung banget nih kita bisa
ketemu abang disini.” ujar salah
seorang pemuda
Sinar matahari samar-samar masuk
melalui celah-celah batang pohon. Uap panas dari segelas kopi susu menyembur ke
badan, membuat kulit terasa hangat sekejap. Sambil diiringi kicauan suara
burung, Kedua pemuda tadi bercerita banyak dengan kami. Ternyata mereka juga
berasal dari Jakarta, tepatnya di daerah Kemayoran. Mereka berdua sudah bekerja,
dan memanfaatkan waktu liburnya yang hanya tiga hari untuk mendaki gunung.
Karena waktu mereka tidak banyak, mereka pun harus mengakhiri obrolan menarik
dengan kami. Sesaat setelah segelas kopi habis, mereka berkemas lantas bergegas
melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian, kami pun juga
berkemas dan langsung pergi meninggalkan bangunan berukuran 3x3 meter tadi.
Rasa pegal sudah cukup berkurang namun napas terengah-engah karena kami harus
mengatur ulang napas kami setelah beristirahat. Ditambah lagi oksigen yang
semakin menipis karena posisi kami semakin tinggi dari permukaan laut. Sempat
beberapa kali pandanganku kabur karena kekurangan oksigen. Namun hal tersebut
tidak mengurangi niatku untuk bisa sampai ke tujuan kami.
Cuaca gunung memang sulit diprediksi,
terkadang mendung dan turun tetesan-tetesan air dari langit serta kabut tebal
yang menutupi pandangan. Membuat udara begitu dingin. Namun hanya beberapa
menit saja cuaca langsung berubah menjadi cerah dengan cahaya matahari bersinar
yang membuat udara cukup sejuk.
Tidak terasa jalan yang kami
lalui kini berubah menjadi jalan kering dengan berbatuan kerikil. Aku teringat perkataan Fais ketika di dalam bus.
Katanya jika jalan tanahnya sudah berubah menjadi jalan berbatu, berarti kita
sudah dekat dengan Surya Kencana. Aku pun bersemangat dan mempercepat langkah
kakiku. Ransel besar yang penuh dengan perbekalan yang membebani punggungku
dari tadi seolah-olah hilang entah kemana. Rasanya benar-benar ringan tanpa
beban.
Langit tidak terlihat karena dahan
pohon begitu lebat. Dengan perasaan berdebar, bercampur bahagia. Sungguh
perasaan yang tidak dapat ku ungkapkan saat itu. Dari kejahuan sudah terlihat
sebuah pintu keluar dari hutan. Pintu keluar tersebut bersinar terang
seolah-olah menandakan ada tempat yang sangat indah diluar sana.
Sambil mengeluarkan ponsel, ku
abadikan momen tersebut sambil berlari. Baru beberapa langkah keluar dari
hutan, mataku dibuat takjub dengan hamparan tanah lapang luas dikelilingi
rerumputan hijau yang menyala terkena terpaan sinar matahari. Langit biru
berhiaskan awan putih yang menyebar seperti domba-domba yang belum dicukur
bulunya. Serta ribuan bunga edelweiss bermekaran yang bergoyang-goyang terkena
hembusan angin. Semua pemandangan itu tertutupi oleh bukit-bukit besar nan
hijau yang mengelilingi tanah lapang tersebut.
Langkah kakiku perlahan melambat,
sambil mencari spot yang bagus untuk
bersistirahat, aku tersadar teman-temanku tertinggal jauh dibelakang. Aku
bahkan sampai lupa mematikan kamera ponselku karena kagumnya. Sudah menemukan spot yang tepat, tanpa pikir panjang
langsung saja kulempar tas ransel besarku ke tanah, disusul tubuhku yang sudah
basah kuyup karena kelelahan.
Aku memilih spot yang tanahnya rata dan didepannya ada sepetak bunga edelweiss.
Kupejamkan mataku beberapa saat lalu kubuka kembali. Samar-samar dari balik
kelopak mataku langit biru yang cerah begitu menenangkan jiwa. Sedikit turun
kebawah, rerumputan hijau yang tidak terlalu tinggi bersanding dengan bunga
edelweiss meliuk-liuk, menari-nari mengikuti komando dari hembusan angin.
Bunga edelweiss. Bunga yang
sering dijuluki bunga abadi karena memang bunga ini tidak pernah layu jika
tinggal di habitat aslinya. Biasanya mekar
dipenghujung musim hujan, saat terpaan sinar matahari begitu intens. Beruntung
sekali momen saat ini tepat saat bunga ini bermekaran indah.
Dua tenda telah berdiri. Satu
tenda ditempati Aku, Fais, dan Fahmy. Satu tenda lagi berisikan Rifdah, beserta
ransel-ransel besar milik kami. Kami menghabiskan malam hari di dalam tenda
sambil menatap keluar kearah langit. Langit saat itu begitu cerah, terlihat
taburan bintang-bintang menghiasi langit malam itu. Terpaan angin malam
meniup-niup, dan masuk ke celah-celah tenda. Suara jangkrik terdengar begitu
jelas, dari segala arah, namun suaranya tidak mengganggu.
Tiba-tiba langit mendung,
pertanda akan turun hujan. Kami bergegas menutup tenda. Tak lama kemudian
hujanpun turun. Dari dalam tenda terdengar derasnya suara hujan. Setelah
beberapa pembicaraan. Kami semua pun akhirnya tertidur pulas. Keesokan hari,
langit begitu cerah. Terlihat pemandangan langit yang mirip kemarin pagi namun
dengan suasana yang berbeda dari atas ketinggian 1.450 mdpl.
Setelah membereskan tenda, kami
melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tiba di puncak, pemandangannya begitu
indah. Surya Kencana tempat tadi kami mendirikan tenda terlihat begitu jelas.
Tampak juga tenda-tenda para pendaki lain terlihat sangat kecil dari atas sini.
Bagi kami, puncak bukanlah tujuan
utama kami. Puncak hanyalah bonus dari segala perjuangan yang telah kami lalui
sepanjang perjalanan. Yang paling penting bagi kami adalah, dapat menghabiskan
waktu bersama sahabat di tempat yang seindah ini.
Senja tiba, kami pun sampai di
bawah. Membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang, kemudian menunggu bus ke
arah Jakarta. Di dalam bus aku dan teman-temanku tertidur lelap. Bus itu pun
perlahan meninggalkan kota Bogor yang sejuk dan kembali menuju Jakarta


0 Komentar